Ur Name

 

-Ur Name-

 

Editor: Naomilutfi

 

Ur Name © 2020

 

                            

-Sinopsis- 

Bagaimana cara kamu untuk mengetahui karakter seseorang hanya dari namanya?

a. Mendekati karakter tersebut

b. Berkenalan dengan karakter

c.  Hanya memandang setiap gerak-gerik karakter?

 

Mungkin dari kami akan menjelaskan bagaimana kami mengenali suatu karakter dari “Nama”.

 

-Prolog-

“Gimana Ji laporannya? Udah jadi?” tanya seseorang kepada laki-laki yang bernama “Jihan”. Jihan yang saat itu masih berkutat dengan buku elektriknya hanya bisa mengangguk, tanda dia sudah menyelesaikan laporannya tanpa terkecuali. Karena saat ini yang sedang dipikirkan oleh Jihan, bagaimana bisa ia telat untuk mengikuti kerja praktik?.

 

Jihan hanya bisa menghela nafas karena dia hanya memikirkan orang lain tapi melupakan batas dirinya sendiri, karena bagi Jihan, menjadi seorang pemimpin harus bisa menyelesaikan tanggungjawabnya terlebih dahulu. Benar, saat itu dia sedang menjabat sebagai ketua pelaksana suatu acara kampus, dan karena itu juga, Jihan harus terlambat dalam mencari tempat magang untuk kerja praktiknya yang ia kerjakan sekarang.

 

Andai waktu bisa terulang kembali, mungkin dia akan mendengar nasihat dari ibunya lewat ponsel yang mengatakan bahwa menjadi pemimpin harus tahu batas kemampuannya, itu yang saat ini disesali oleh Jihan. Tapi apa daya, nasi sudah menjadi bubur, kejadian itu sudah dilewati olehnya.

 

Akhirnya Jihan beranjak pergi untuk menghadap dosen pembimbing yang sudah sabar dalam mengarahkan laporannya sampai diperbolehkan untuk dicetak. Akhirnya Jihan bisa bernafas lega karena laporannya sudah dicetak dan sudah disetujui oleh penguji.

 

“Gimana Ji? Udah lega kan?” tanya temannya kepada Jihan. Akhirnya, temannya bisa melihat senyum lebar 3 jarinya Jihan seperti sedia kala, karena dimata temannya, Jihan adalah sosok orang yang sangat ceria, bisa menempatkan dimana waktu untuk bercanda dan waktu untuk serius. Selain itu, Jihan juga adalah sosok bertanggungjawab dan bisa memimpin dengan baik. Meskipun saat pemilihan, Jihan masih belum yakin terhadap kepemimpinannya.

 

Dan terbukti, berkat kepemimpinan seorang Jihan, acara kampus terbilang sangat sukses sampai akhirnya Jihan mendapatkan tawaran magang dari seseorang yang sekaligus menjadi dosen pembimbingnya, walaupun terlambat, Jihan sangat bersyukur karena berkat kerja kerasnya saat itu, dia mendapat tempat magang untuk kerja praktiknya.

 

Temannya saat itu mengingat bahwa dia juga sangat rewel karena sering menyuruh Jihan untuk rapih dalam segala apapun, karena dia tahu Jihan adalah anak rantau yang jauh dari orang tua, dan Jihan masih belum mengurusi dirinya dengan baik.

 

“Lu mikirin apaan dah?”, tanya Jihan kepada temannya.

 

“Memikirkan kebodohanmu Jihan Mahendra”. Dan mereka berdua tertawa bersama-sama dibawah pohon rindang yang semilir diantara ranting dedaunan. Jihan sangat memperhatikan temannya berbicara karena Jihan sangat menghargai temannya yang sudah mau repot-repot membantunya selama ini.

 

“Makan yuk Ji”, tatapan Jihan seolah sirna ketika temannya sudah selesai berbicara dan mengajaknya untuk makan. Akhirnya mereka berdua makan bersama di sebuah kedai yang sering mereka kunjungi, dan mereka berdua akhirnya berbicara.

 

“Ji, lain kali dengerin kata ibu lu ya, nama lu boleh pemimpin, tapi lu juga harus tahu batasannya, kayak sekarang kan lu telat magang gara-gara semuanya lu urus”, kata temannya Jihan yang bernama Sea.

 

“Iya Se, lain kali gua bakal dengerin ibu gua, tapi thanks ya, gara-gara lu, gua berasa diomelin ibu”.

 

“Selaw, kayak sama siapa juga lu”.

 

Mereka mengobrol seperti umumnya seorang teman sekelas yang suka mengobrol tentang keluh kesah seorang mahasiswa, keluh kesah seorang anak rantau yang jauh dari orang tua, dan keluh kesah tentang kebodohan mereka berdua. Sea tersenyum melihat Jihan tertawa. Akan tetapi, tawanya Sea berhenti ketika Jihan mengatakan “Tapi se, lama-lama kok gua nyaman sama elu ya?”.


Komentar

Postingan Populer