Tulisan Naomi I


-Oneshoot Friendship
 
 

Di suatu pagi hari dengan secangkir kopi di sebuah kafe di daerah Jakarta tempat gadis itu hampiri, dia melihat seorang laki-laki yang datang menghampirinya untuk mengambil secangkir kopi milik gadis itu. “Hei!, kopi punya gua itu, pesen sendiri!”, seru gadis itu kepada sahabatnya, Radit.
Radit tertawa melihat kelakuan salah satu sahabatnya yang menurutnya gemas. Tapi sayang, ini bukan cerita romansa, tapi cerita tentang persahabatan mereka dalam perkuliahan seni grafis. Tidak ada yang menarik dari perkuliahan mereka, karena mereka berhadapan dengan deadline tugas yang mengharuskan mereka untuk begadang sampai tugasnya selesai.
“Tumben ke kafe pagi-pagi, abis begadang, atau air galonnya abis?”, tanya Radit kepada gadis itu, dan dia hanya membalas dengan tawanya yang renyah. Maklum saja, gadis itu yang bernama Sea memang terkenal receh di jurusan kuliahnya, apa saja dia tertawakan selama masih ada batasnya.
Sea bertanya kepada Radit, apakah tugas etnik sudah dikerjakan atau tidak, dan Radit menjawab sudah mengerjakan meskipun harus begadang pada malam hari. Seketika hari itu teman-teman kelas mereka menjadi makhluk nokturnal akibat tugas deadline tersebut.
Akhirnya mereka mengobrol mengenai tugas deadline yang mereka kerjakan. Radit jadi teringat waktu mereka masih awal masuk kuliah, dia dan Radit tidak sedekat ini sampe saat itu Radit datang kemejanya dan meminta cat milik gadis itu, karena cat miliknya sudah habis, karena kejadian itu mereka dekat.
Ada lagi suatu momen yang tidak akan Sea lupakan bersama sahabatnya, ketika mereka menjadi satu kelompok dalam keakraban malam yang diadakan oleh petinggi jurusan dari kampusnya. Mereka berdua jadi lebih dekat, tapi bukan dekat dihati, karena sekali lagi, ini bukan cerita romansa.
Sea teringat, Radit tercebur di kubangan lumpur pada saat jurit malam, sampai-sampai Radit dipapah oleh senior mereka karena kejadian itu. Sampai dimana pada saat sudah ada waktu bebas, Sea menghampiri Radit yang kakinya masih keseleo.
Tapi apa daya, perbedaan tinggi mereka sangat jauh, sampai Sea bingung mau memapah sahabatnya dengan cara apa. Bayangkan jika seseorang dengan tinggi badan 161 cm harus memapah seseorang yang mempunyai tinggi badan 185 cm, menjadi Sea tentu bingung sampai dirinya meminta tolong kepada salah satu temannya yang satu kelas dengan mereka berdua yang memiliki tinggi yang tidak beda jauh dengan Radit, dan akhirnya Radit dipapah oleh temannya itu.
Tak hanya sampai situ, sehabis itu Sea terpaksa menggendong Radit dari belakang untuk sampai dirumahnya, karena Radit tidak membawa sepeda motor karena dia belum perpanjang SIM miliknya. Akhirnya mereka menaiki jasa antar jemput melalui sebuah aplikasi online.
“Woi Se!, ngebayangin apaan lu?”, Sea kaget karena Radit mengagetkannya, Radit tau kalau sampai Sea membayangkan sesuatu sampai pikirannya kosong itu akan menghawatirkannya, karena pernah kejadian saat makrab tersebut, Sea mendadak kesurupan karena pikirannya kosong.
 Sea tertawa melihat sahabatnya yang sangat heboh, ketika dia membayangkan kejadian itu, melihat sahabatnya berekspresi dalam berbicara, dia jadi tau kalau sahabatnya khawatir kalau sampai dia kesurupan lagi, sangat tidak lucu jika kesurupan di kafe pada pagi hari.
Akhirnya Sea menyesap kopinya dengan nikmat, dan melihat sahabatnya menatap dalam kepadanya, sepertinya sahabatnya ingin berbicara serius dengannya. Akhirnya Radit memulai pembicaraan dengan bertanya apakah Sea mengambil pertukaran pelajar di Jepang.
Sea memikirkan hal tersebut sambil menyesap kopinya, karena Sea sempat ditawari oleh dosen penasihatnya untuk mengambil pertukaran pelajar tersebut, dan Sea mengangguk iya karena Sea juga ingin belajar di negara yang terkenal dengan kartun anime tersebut.
Sea tau, sahabatnya kini bersedih karena akan berpisah dengannya, kemudian ia menepuk pundak sahabatnya seakan-akan tidak perlu menghawatirkan hal tersebut, karena ini soal keinginan tiap individu untuk meraih impiannya. Sea juga tau impian yang sempat diceritakan sahabatnya Radit.
Yap, Radit ingin menjadi produser dalam industri  musik, sudah beberapa lagu yang didengar olehnya melalui aplikasi soundcloud miliknya. Sea akui, sahabatnya sangat berbakat dalam hal itu, apalagi mendengar skill rapp-nya yang bisa dibilang sangat enerjik, dan dirinya kembali bersemangat ketika mendengar salah satu lagu sahabatnya yang berjudul “I Like That”.
Sea juga sempat pernah menjajal dunia rapp, sampai dirinya ikut busking underground dijalan untuk menampilkan skill rapp-nya dihadapan banyak orang, tapi seakan dia tau bakat sebenarnya, yaitu menjadi illustrator, karena pada saat dia gundah, dirinya akan menggambar sesuatu yang menggambarkan dirinya saat ini. Selain menjadi illustrator, Sea juga menulis apa yang akan dilakukannya pada suatu hari.
“Se, nanti kalau lu ke Jepang nanti, kirimin foto bunga sakura dong ke gua, biar gua ngerasain ke Jepang juga”, kata Radit sambil dibalas senyuman oleh Sea. Sea tidak tau perasaannya saat ini, intinya dia sangat berat untuk meninggalkan sahabatnya untuk sementara waktu.
Akhirnya jam tangan Radit sudah menunjukkan angka 8 yang artinya mereka berdua harus bergegas menuju kelas untuk mengumpulkan tugas etnik yang mereka kerjakan sampai begadang.
Hari demi hari mereka lalui dengan rasa canggung karena pada akhirnya hari ini adalah hari dimana Sea harus meninggalkan sahabatnya untuk sementara waktu. Radit juga mengantar sahabatnya untuk sampai ke bandara, dan hari itu juga mereka terakhir berinteraksi satu sama lain.
Sampai di Jepang, Sea tinggal di tempat sejenis asrama yang sudah disediakan oleh penyelenggara pertukaran pelajar tersebut, lumayan nyaman untuk seorang diri, sampai-sampai Sea kangen dengan kamar kosnya, maklum saja, Sea adalah anak rantau yang mengadu nasib di kota besar untuk meraih impiannya menjadi seorang illustrator grafis melalui perkuliahan jurusan seni grafis.
Perbedaan waktu juga yang mengharuskan Sea dan Radit jarang untuk berkomunikasi, paling mentok adalah aplikasi chatting untuk berkomunikasi satu sama lain, kalau telepon, Sea takut mengganggu Radit yang mungkin berkutat dengan deadline tugas yang dia kerjakan.
Sampai pada puncaknya, Sea sudah sampai pada hari terakhirnya dalam studinya di Jepang. Akhirnya Sea mengabari sahabatnya Radit kalau dia akan pulang ke tanah air untuk melanjutnya studinya bersama Radit. Didalam chat tersebut Radit sangat senang kalau sahabat tercintanya akan kembali bersamanya untuk meraih impian mereka masing-masing.
Sampai pada akhirnya mereka bertemu kembali dengan tersenyum satu sama lain, bukan pelukan yang didapat Sea, tapi satu jitakan yang ia dapat dari sahabatnya, karena sahabatnya, Radit sebal karena selama ini Sea jarang mengabarinya.
Akhirnya Radit mengantar Sea kerumahnya untuk sementara waktu sambil Sea mencari kamar kosannya lagi, dan barang-barangnya Sea sebelum Sea ke Jepang, sudah dijaga oleh Radit dan keluarganya. Sampai dirumahnya Radit, ibunya Radit menyambutnya dengan pelukan hangatnya kepada Sea. Betapa senangnya Sea karena selama perantauannya, ia dikelilingi oleh orang yang baik kepadanya, sampai Sea mendapat pekerjaan sampingannya sebagai penjaga toko florist yang dimiliki oleh ibunya Radit.
Sea sangat menyukai bunga biru yang kata ibunya Radit, bunga itu dinamai “forget me not” terlihat sangat unik bukan?. Sea mengingat kembali persahabatannya dengan Radit  yang menurutnya sangat unik. Tidak disangka, dia bersahabat dekat dengan seorang laki-laki yang kini berada dihadapannya, dan dia dijitak untuk kedua kali oleh Radit, “ih, kalau kepala gua benjol gimana Raditya Jihan…” kata Sea sebal.
“Abis, lu kaga ada kabarnya sama sekali, ngabarinnya pas mau balik doang” sebal Radit.
Sea berpikir kembali, kalau dirinya menyesal kalau dia mengabari sahabatnya kalau saat penting saja, karena di Jepang, Sea juga bekerja paruh waktu untuk mencukupi kebutuhan sehari-harinya. Memang, biaya yang penyelenggara kasih kepadanya itu lebih dari cukup, tapi dia juga ingin mandiri, supaya dia tidak sia-sia untuk bertahan hidup disana.
“Se, kan gua mau ngasih lagu ke elu lagi, tapi elu jarang banget bales chat gua”, sebal Radit kepada Sea.
“Sekarang kan gua udah disini, mana lagunya?”, tanya Sea menagih lagu kepada Radit.
Akhirnya Radit membagikan salah satu earphone-nya kepada sahabatnya untuk mendengarkan lagu barunya di soundcloud. Sea takjub mendengarnya, karena lagu sahabatnya kini cukup bagus menurutnya, “Gile lu, belajar darimana? Mateng bener lagu lu kali ini”, puji Sea kepada sahabatnya Radit.
Radit tersenyum sipu sambil berkata kalau lagunya kini ditujukan hanya untuk sahabatnya, Sea, karena senang susah mereka dapatkan berdua, tidak ada rasa cinta diantara mereka berdua, adanya saling menghormati dan menghargai didalam persahabatan mereka. Betapa indahnya persahabatan mereka berdua.
Sampai beberapa tahun kemudian mereka berdua berhasil meraih impiannya masing-masing, Radit sebagai produser yang mencipta musik yang hits, bahkan lahu ciptaannya sampai masuk chart all kill berkat tangan ajaibnya dalam menari dengan nada dan irama, Sea juga meraih impiannya, yaitu menjadi layout illustrator dalam buku cerita untuk anak-anak, anak-anak sangat menyukai gambar didalam cerita yang dibuat Sea sampai ada yang menjadi pelanggan tetap untuk membeli buku cerita yang digambar oleh Sea. Betapa bahagianya kini mereka berdua bisa meraih impiannya masing-masing dengan perjuangan mereka berdua yang tidak sia-sia.
-End


Komentar

Postingan Populer