-Pernikahan
Dulu, saya sempat berfikir, kalau pernikahan itu terbentuk karena society. Tapi, setelah saya pikir-pikir, pernikahan itu kompleks konsepnya. Intinya menyatukan dua kepala, dua pemikiran, dua keluarga, dua latar belakang, dan dua ego. Jadi, jika pernikahan tidak ada diskusi tentang komunikasi untuk menuju satu visi dan misi, rumahtangga di dalam pernikahan tersebut akan goyang.
Dulu, saya memang takut akan ada pernikahan, dari cerita
kerabat terdekat atau terjauhku yang sama-sama mengalami kegagalan pernikahan,
dan lebih ke society yang menakuti, makanya banyak perempuan yang gagal
dalam pernikahannya karena terlalu menuruti society, alih-alih ibadah. Memang,
pernikahan adalah ibadah terpanjang bagi dua individu, karena mereka akan diajari
untuk bersabar dan memaafkan seumur hidupnya, jika belum bisa dalam dua hal
itu, lebih baik menunda pernikahan, atau tidak menikah sama sekali.
Dan, jika pernikahan gagal, pihak perempuan lah yang
selalu disalahkan, ada yang bilang perempuan cerai karena tidak becus mengurusi
suaminya, perempuan yang selalu dibilang kurang taat terhadap suami. memang ada
perempuan yang redflag istilahnya, tapi banyak juga perempuan yang
merugi di kegagalan pernikahannya, padahak bukan perempuan juga yang salah di
pernikahannya.
Apalagi, ketika perempuan bercerai mati, ketika perempuan itu memilih untuk menikah lagi untuk kedua kalinya, society mengatakan perempuan menikah lagi karena sudah tidak mencintai suami sebelumnya, apalagi jarak perempuan itu berpisah dengan suaminya melalui maut, dan jarak pernikahannya dekat, padahal perempuan juga berhak untuk meneruskan hidup, dan menentukan arah kehidupannya selanjutnya.
Sedangkan laki-laki? Laki-laki bercerai hidup ataupun bercerai mati pun, mereka tetap didukung dan dirangkul, dan perempuan tidak mendapat kedua hal itu. Makanya, itu juga salah satu alasan, dulu saya sempat memilih untuk tidak menikah sama sekali, sampai saya bertemu dengan suami saya.
Memang, tidak ada yang mudah untuk kami berdua untuk
menyatukan isi kepala kami, makanya kami berdua mengalami pasang-surut hubungan
yang cukup lama. Sampai tiba saatnya, kami menikah, memang usia pernikahan kami
baru jalan beberapa bulan, dan itu cukup membuat kami berdua belajar untuk menurunkan
ego kami berdua masing-masing. Karena, kami berdua akhirnya memutuskan untuk
menikah, karena menurut kami berdua, masalah yang dulu kami pernah jalanin
sudah selesai, dan memulai kehidupan baru berdua.
Saya harapnya, pernikahan kami berdua itu cukup sekali
seumur hidup sampai akhir hayat usia kami berdua, dan saya juga belajar dari
pernikahan ini untuk menahan diri saya, ketika saya mulai emosi, apalagi emosi
saya sedang naik-naiknya. Karena trauma masa kecil, dan masa sekolah yang saya
alami, itu cukup membuat emosi saya sering sekali naik-turun sampai sekarang. Dan,
seuami saya mengajari saya untuk kontrol diri terhadap emosi saya, dan saya
cukup bersyukur, karena ada orang lain yang memahami, dan mengajari saya untuk
menurunkan emosi saya, supaya saya bisa cepat pulih dari trauma-trauma tersebut.
Hingga saatnya, ada manusia yang tumbuh di dalam perut
saya, iya itu anak saya, dan saya sedang hamil di usia kandungan yang masih
muda, emosi saya naik-turun lagi, bahkan saya lebih sensitif dari sebelumnya.
Saya berada dalam dua posisi, saya bingung saya harus apa, tapi saya akhirnya
paham tentang adanya ikatan batin dari ibu ke anak. Karena, saya pernah berada
di posisi harus survive sendiri dari kecil, dan tidak ada yang
mengarahkan dan merangkul saya sama sekali. Dan akhirnya, saya memasang tembk
setinggi-tingginya untuk itu. Dan ketika saya mengandung, saya hanya ingin
menjadi ibu bagi anak saya, supaya anak saya tidak bernasib sama seperti saya,
yang kurang mendapat kasih sayang orang tua, terlalu lama memasang tembok
sampai hubungan sosial saya terganggu, saya trauma karena sempat kena bullying
dari sekitar.
Maka dari itu, saya bertekad untuk menjadi perisai bagi
anak saya, jika anak saya kenapa-kenapa, saya bisa melindungi, merangkul, dan
mengarahkan anak saya kearah yang lebih baik, itu yang saya sangat harapkan. Saya
hanya ingin menjadi garda terdepan untuk anak saya, tapi jika anak saya yang benar-benar
salah, saya akan tetap menasehatinya. Memang kedengarannya mudah, dan saya
yakin prakteknya tidak semudah itu. Tapi saya harap, dengan tekad saya, saya
bisa menjadi guru kehidupan bagi anak saya sendiri, karena sekali lagi, saya
tidak mau anak saya bernasib seperti saya.
Karena kehadiran anak kami berdua, saya harap kami berdua
bisa menjadi satu tim yang kompak dalam pernikahan kami, meski mungkin ketika
anak kami lahir dan bertumbuh besar seiring dengan waktu, kami mempunyai parenting
yang sangat berbeda bagi anak kami berdua. Dan, saya harap, kami berdua bisa
kompak untuk membesarkan anak kami berdua.
Dan, memang benar, ujian pernikahan tidak hanya dari faktor
internal rumahtangga kami berdua, ada faktor eksternal juga yang menjadi ujian
pernikahan kami, saya tidak mau menjelaskan seperti apa. Karena, itu latihan
supaya kami berdua bisa melewati semua hal di dalam rumahtangga kami berdua.
Saya juga menahan diri untuk tidak membuat status macam-macam di publik sosial media saya, karena saya ingin melindungi rumahtangga kami juga, semoga saya bisa untuk menahan itu. Karena, dulu sebeum nikah, saya sering sekali susah menahan diri ketika saya bermain sosial media. Karena bagi saya sekarang, sosial media itu adalah racun bagi saya untuk membenci seseorang yang bahkan tidak ada sangkut-pautnya terhadap saya. Makanya, saya menahan diri, karena efek sosial media memang sebesar itu.
Karena, seringkali saya menemukan kasus orang membeci orang lain tanpa sebab, dan dia terlalu membenci orang lain sampai ke hal personal orang lain tersebut. Pas ketahuan di aktu berikutnya, orang itu kehilangan seluruh hal yang menurutnya berharga, karena dia sendiri tidak bisa mengontrol jarinya untuk menahan diri dari kebencian yang ada di dalam hatinya, dan saya tidak mau seperti itu.
Dan, dari sosial media, saya sebisa mungkin untuk menjadi
tempat bagi orang-orang yang butuh speak up, meskipun saya hanya bisa merepost
postingannya, tapi seenggaknya saya bisa membantu orang tersebut untuk menyuarakan
hal yang menurutnya tidak adil. Karena saya sedang menahan diri, karena ada
keluarga kecil saya yang harus saya lindungi.
Balik ke topik pernikahan, saya menuliskan ini, untuk
mengutarakan tentang pengalaman saya yang akhirnya memilih untuk menikah di usia
saya yang menurut society itu tua. Tapi, saya tidak peduli, karena saya
sudah selesai dengan kehidupan saya di masa lalu, masa muda saya sudah selesai.
Dan, dari pernikahan ini, saya belajar semuanya, dari menahan diri, sampai
belajar untuk menjadi istri dan ibu yang terbaik untuk suami dan anak saya.
Karena, saya juga ingin mempunyai suasana rumahtangga kami berdua yang sehat.
Dan, saya menulis ini, tepat ketika suami saya berulang
tahun kemarin, selamat ulang tahun suamiku, maaf kalau tulisan saya cukup berat
pembahasannya. Dan saya berharap, kita berdua bisa menjadi tim yang kompak
untuk rumahtangga kita. Saya harap, kamu sebagai suami bisa menjadi suami dan
ayah yang baik bagi saya dan anak kita. Terimakasih, karena kamu sudah menerima
saya sebagai istri yang akan menyambung kehidupan kamu selanjutnya, doakan saya
untuk selalu menjadi istri dan ibu yang baik bagi kamu dan anak kita.


Komentar
Posting Komentar